HMI Bunga Yang Tak Lagi Semerbak

0
111 views

Bunga mawar tak pernah mempropogandakan harum semerbaknya, dengan sendirinya harum semerbaknya tersebar disekelilingnya.( Bung Karno)”

Di Yogyakarta dalam ruang kelas Tafsir, Rabu 16:00 waktu setempat. tepat 73 tahun silam, di sebuah perguruan tinggi Islam STI, sekarang Universitas Islam Indonesia UII. Terjadi sebuah peristiwa bersejarah Husen yahya menjadi saksi. Konsolidasi yang tak alot dalam ruangan 3×4 melahirkan persetujuan untuk berhimpun atas nama ummat dan bangsa.

Lalu setelah beberapa dekade dalam perjalanannya, paguyuban yang akrab disapa HMI mulai menggoreskan perananya dalam catatan panjang perjuangan. argumentasi yang sering saya dengar dalam beberapa kegiatan latihan, ataupun yang saya baca dalam beberapa buku-buku yang sampulnya identik dengan warna hijau berpadu hitam.

Tidak ingin larut sebenarnya dalam romantika sejarah yang seringkali didongengkan ini. Terlepas dari apa isi pesan yang dimaksud disetiap cerita yang mereka muntahkan agar yang menerima tumpukan kata tersebut bisa sepemahaman. Dan disetiap informasi yang mereka beberkan ini, seringkali beberapa saat saya terdiam. Paguyuban ini dibentuk dengan nawacita yang ingin dicapai, dan saya merasa nawacita tersebut sepertinya sangat mulia Dengan dua jenis api semangat yang menjadi bahan bakarnya, semangat kebangsaan dan semangat keummatan.

Paguyuban ini layaknya sebuah lokomotif, berjalan diatas rel keummatan dan kebangangsaan. Tujuannya ingin sampai pada sebuah paguyuban yang lebih besar. Sebuah paguyuban yang di dalamnya tidak ada lagi manusia yang berteriak tuntutan atas keadilan, tuntutan atas sebuah kesejahteraan. Cita-cita yang ingin membawa pada sebuah masyarakat yang adil makmur.

Saya ingat dalam sebuah buku, jumlah halamannya yang tidak begitu tebal sehingga tidak begitu cocok untuk dijadikan sebuah bantal tidur yang empuk. Kembali bercerita, dari sejak pendirinya yang paling tua Lafran Pane dkk hingga yang paling muda pernah tergabung di dalam paguyuban ini, selalu punya andil dalam Republik ini. Sebut saja, HMS Mintareja SH, Dr. Deliar Noor, Drs. Akbar Tanjung, Drs. H. Ridwan Saidi, Drs. Chumaidi Sjarif Romas, dan yang paling sering saya temui karya-karyanya Drs. Nurkholis Majid yang diberi gelar sebagai guru bangsa dalam buku yang sampulnya biru dengan judulnya Cak Nur Sang Guru Bangsa.

H. Mohammad Syafa’at Mintareja S.H, seorang politisi dan pejabat pemarintahan yang kiprahnya sejak masa Orde Baru. Prof. Dr. Deliar Noer, M.A adalah seorang dosen, pemikir, peneliti, dan politikus yang sedikit dari intelektual dan ilmuan politik yang memiliki tinggi dan aktif menulis. Akbar Tanjung merupakan salah satu politikus besar di Indonesia. Perjalanan karir politik yang gemilang dan pernah menduduki kursi ketua DPR RI pada era Pemerintahan Megawati Soekarno Putri. Selanjutnya Ridwan Saidi seorang mantan anggota DPR dan seorang budayawan Betawi. Sedangkan Drs. Chumaidi Sjarif Romas, M.Si, didaulat menjadi slah satu komisioner ASDP dan BUMN, seorang akademisi, mantan Wakil Dekan 1 dan 2 Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, mantan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam yang dikenal bersahaja.

Sekarang penerusnya sedang istiqomah, (katanya) menjaga keutuhan paguyuban ini. Keutuhan yang dicita-citakan yang sering menjadi bumbu-bumbu penyedap dalam setiap pamflet yang ramai disosial media. Mungkin agar pesan bahwa semua kader menginginkan sebuah keutuhan itu bisa tersampaikan. Tetapi jika niatnya hanya untuk khalayak tau, mungkin saja bisa. Tetapi untuk meyakinkan tanpa implementasi bukankah itu sama dengan dongeng yang seorang ibu perdengarkan ketika si anak hendak tidur. Walaupun untuk sekedar percaya atau tidak adalah urusan setiap pemilik mata yang membacanya.
Tetapi siapa yang bisa menjamin setiap kader itu memiliki tujuan yang sama, ingin menjaga keutuhan sebuah paguyuban.

Memangnya ada jaminan keuntungan tercipta jika kiranya paguyuban ini bertahan sampai seribu tahun kedepan. Kalaupun tidak bisa bertahan lama, setidaknya hal itu bisa menjadi lebih baik dibandingkan harus melahirkan lebih banyak lagi kader-kader yang bisanya hanya mengambil untung. Lagi pula siapa yang kiranya tidak mencari keuntungan dari setiap usaha yang seseorang lakukan, mana ada manusia yang bisa berperilaku demikian.

Hal yang terus berulang lambat laun menjadi kebiasaan, seperti yang pernah dikatakan Sherly Annavita tentang perubahan terbesar dimulai dari Mindset kita sendiri, dan tampaknya dia juga mengutip dari seseorang Perdana Menteri perempuan pertama di Inggris, Margaret Thatcher pernah mengatakan watch your thoughts for thay becomes word. Watch your words for they become your actions.watch action for they become your habits. Watch your habits for they become your character, watch your character for they become your destiny. In others words what you think you become”, perhatikan apa yang kita fikirkan karena itu akan keluar menjadi kata-kata, perhatikan apa yang kita ucapkan karena itu akan keluar menjadi tindakan, perhatikan apa yang kita lakukan karena itu akan diulang-ulang dan akan menjadi kebiasaan. bahwa cita-cita keutuhan cukup didongengkan tidak perlu ada implementasi. Kali-kali dengan begitu tiap kader yang membacanya bisa terbakar semangatnya untuk sampai pada apa yang diharapkan. Tetapi kalau seperti ini, tidak salah bahwa sebuatan kader penyebar hoax saya kira tidak salah alamat disematkan.

jika berbicara kader-kader paguyuban ini, pastilah beragam jenisnya. Sama dengan warna-warna sampul buku dilemari dalam kamar yang kadang tersusun rapih kadang juga tidak jika rasa malas menyambangi. Terdapat lebih dari seribu satu macam, masing-masing tiap kader.

Kader paguyuban ini memang beragam jenisnya, dan paling sering saya temui, mereka itu yang saya sebut sebagai kader-kader yang suka mendongeng. Sering ngomong banyak namun miskin implementasi. Suka bercerita berbagi kesombongan, ada juga yang paling sering baca buku kiri tujuannya untuk semangat sosialisme dalam buku Karl Marx. Tapi lagi-lagi yang peduli terhadap orang disekelilingnya bisa dihitung jari.

Kader HMI memang seringkali identik dengan perkumpulan-perkumpulan rutin yang diagendakan untuk membahas masalah macam-macam. Dari kalangan yang paling rajin baca buku sampai yang biasa aja pasti akan ikut meramaikan kalau ada forum-forum diskusi. Tidak jarang mereka adu gagasan bersamaan dengan sikap lantangngnya sepakat bahwa seorang kader harus ikut menjaga keutuhan paguyuban ini. Tetapi semangat berapi-api itu hanya sampai disitu, diruang-ruang diskusi itu.

Ada juga salah satu yang identik dengan kader HMI, dibelakang nama dari paguyuban ini disematkan kata Islam, membuat orang awam yang membacanya mengira-ngira. Tetapi justru karena embel-embel Islam dibelakangnya, membuat kadernya seringkali harus melakukan pencitraan. Tetapi jadi semacam beban tersendiri juga bagi setiap kader, karena kata Islam itu berarti menjadikan masyarakat bisa mengira bahwa seorang anak yang tergabung di dalamnya paham betul akan ajaran-ajaran Islam itu sendiri. Tetapi kalau paham berarti mampu menjalankan dong.

Ada juga yang sering berkata, anak HMI itu berteman lebih dari saudara. Tapi kok banyak yang sampai gontok-gontokan untuk sebuah tampuk kepemimpinan.
Paling menyedihkan kalau bahas masalah perkaderan, tempat yang dicita-citakan agar tidak terkena radiasi politik senior, tempat yang harusnya tetap suci. Nyatanya saat ini tidak seideal yang dipikirkan. Perkaderan jadi ajang gagah-gagahan di depan adik-adik yang baru akan bergabung, tidak jarang bau-bau kampanye sedikit-sedikit dicampurkan agar bisa semerbak dalam ingatan adik-adik baru. Pencapainnya sangat baik, mengharapkan adik-adik baru bisa berpikir pragmatis dan wabah haus kekuasaan pun kembali jadi hidangan yang paling lezat.
Berebut kekuasaan menurut saya sah-sah saja, apalagi kalau calon pemimpinnya yang memang mempunyai integritas dan mau berjuang bersama untuk semua yang dicita-citakan paguyuban. Tetapi terlalu naif juga jika berharap demikian.

Mungkin hal ini yang dilihat kakanda Agussalim Sitompul (Almarhum) dalam tubuh Himpunan saat itu, sehinggal judul “ 44 Indikator Kemunduran HMI” menjelma menjadi sebuah buku. Sebuah bacaan kader-kader dari paguyuban ini. Banyak dibeberkan di dalamnya, pola perkaderan dan menejemen organisasi yang ketinggalan zaman, kurang visioner, memudarnya tradisi inetelektual, tidak punya gagasan atau karya untuk masyarakat, kehilangan strategi perjuangan, daya kritis menurun, kehilang kekuatan batin. Karena isinya 44 indikator berarti masih ada 37 indikator yang lain, itu kalau hitung-hitungan saya benar. Bisa saja diluar 44 indikator itu, ada banyak indikator lain, yang tanpa sadar kita berlomba-lomba menciptakannya.

Kalau Tan Malaka pernah berkata dalam bukunya Aksi Massa, bacaan yang bukan lagi baru buat teman-teman yang aktif dalam gerakan, isinya seperti ini “lindungi bendera itu dengan bangkaimu, nyawamu dan tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu, seorang putra Indonesia tempat darahmu bertumpah”. Kalau saya ingin menggantinya, “lindungi paguyuban ini dengan bangkaimu, nyawamu dan tulangmu, karena darinya kau berebut kekuasaan, saling sikut untuk mematahkan kaki lawan agar gagal bertahta. Darinya kita mendapat panggung pentas untuk dapat terkenal, setidaknya bisa menyaingi aktor-aktor Korea untuk mendapat perhatian adik-adik KOHATI.

Seperti itulah warna kader dari paguyuban ini, ada yang merah, kelabu sampai jingga. Masing-masing punya tujuan dalam berhimpun, dari yang idealis sampai pragmatis. Semuanya bebas mengklaim kepemilikan di dalam paguyuban ini, karenanya semua kader bisa berbuat sesukanya. Jadi kalau paguyubannya rusak jangan disalahkan, karena bisa saja benar peguyuban itulah yang memang sudah tidak menemukan pemiliknya.

Paguyuban ini ibarat Bunga yang telah menua tak mampu lagi untuk mekar apalagi mempropogandakan semerbaknya, namun untuk layu apalagi mati sungguh belum pantas untuk terjadi. Sebab tujuaannya yang mulia belum ia tunaikan.

Penulis Nurwahida kader HMI Cabang Pare-Pare