Noemi

Rp89,000

Judul : Noemi “Yang Baik untuk yang baik?”
Penulis : Saeful Zaman
Penerbit : Media Perubahan

Description

  • Novel ini MEMBUNGKAM anggapan, bahwa anak geng motor, melulu urusannya sama hal negatif. Anak geng motor juga bisa shaleh. Seriusan!
  • Kisah yang out of the box

 

  • Bandung di tahun 2001 sudah tak jauh beda suasananya dengan hari ini. Panasnya sudah mendekati Jakarta. Hanya beda di anginnya, masih terasa dingin jika menyentuh pori-pori. Geng motornya juga masih sama. Ada Moonraker, Brigez, XTC, GBR, dan beberapa lagi yang lainnya.
  • Ini hari pertama Dikdik mengenal Noemi. Adalah saat matahari sedang senja di 45 derajat menuju arah barat. Sinarnya menyelinap masuk, menyapa di sela-sela daun Akasia yang berada persis di depan Aquarium, hingga berkelindan menerangi lebih dari separuh ruangan itu.

***

Aquarium adalah nama tempat yang disepakati secara tidak tertulis, oleh semua mahasiswa di kampus itu. Disebut demikian, karena memang dinding kiri, kanan, dan bagian depannya, terbuat dari kaca tebal yang transparan. Menempel kokoh pada tiang pancang berbahan besi dan berwarna biru. Sehingga orang-orang yang ada di luar ruangan itu, dengan mudah tahu, siapa saja yang ada disana.

Aquarium saat itu begitu ramai. Dengan segala keriuhannya, banyak orang yang berlalu lalang. Para mahasiswa, berkumpul di semua sudutnya. Ada yang sedang menunggu jadwal kelas berikutnya, ada yang baru keluar kelas, dan ada juga yang memang menjadikan aquarium sebagai tempat tongkrong favorit para mahasiswa. Ruangan ini memang sangat strategis, sebagai perlintasan hilir mudik mahasiswa.

Begitu melintas rombongan akhwat aktivis LDK di selasar dan lewat depan aquarium, jelas terlihat wajah-wajah penuh keteduhan, yang tatapan matanya lebih sering mengarah ke bawah. Satu orang dari serombongan akhwat itu, rupanya menarik perhatian Dikdik.

***

 

“Dik, Masa lalu kan udah bukan milik kita. Masa depan juga belum. Kita fokus aja sama hari ini. Sempurnain ikhtiar, biar dapet ridho Allah. Biar Allah aja yang nentuin gimana ke depannya.”

 

Ga ada lagi rahasia kekurangan diri, bagi orang yang akan memperbaikinya.”

 

life-story

 

“To My PMD (Pria Masa Depan),

 

Kalo kamu baca ini, mungkin kamu sudah jadi suamiku…

Sebelum kita nikah, aku muter-muter cari kamu. Belok kesini, belok kesana. Padahal katanya, perempuan itu harusnya pasif. Nunggu aja jodohnya dateng. Tapi aku ga bisa. Aku yakin kamu udah Allah persiapkan untukku, dan sedang mencari-cari aku juga.

So, is it wrong if i’m looking for you? Sekarang, kamu ada dihadapanku. Di sebelahku. Jadi PMD-ku.

Apa yang kamu rasakan?

Akukah yang selama ini kau cari-cari?

Jika ada rasa hangat dalam hatiku, semoga itu pertanda Allah meridhoi kita. Karena selama aku belum ketemu kamu, aku dikejar-kejar rasa berdosa. Menyimpan rasa dalam hati, yang entah pada siapa. Pada makhluk Allah yang bukan takdirku? Tapi kalau makhluk Allah itu adalah kau yang sekarang jadi PMD-ku, berarti Allah memang menguji kesucian hatiku kepada-Nya.

It’s about process, a long process! Sujud syukurku pada Allah yang menghadiahiku engkau sebagai PMD-ku. Just be my future man, now and forever.

Tapi ini sudah genap satu tahun. Nothing happened… and i’m wondering why?

Belum cukup bersihkah hati ini ya Allah?

Apalagi yang harus aku persiapkan untuk menuju cinta-Mu?

Menuju genapnya separuh dien-ku?

Tertatih aku menuju-Mu di dua tahun terakhir, dan kumohon pada-Mu, please, tunjukanlah akhirnya…

Jika telah sampai waktuku untuk bersua PMD-ku, ku mau tak seorangpun yang merayu… kecuali dia.

Allah, kuserahkan kepadamu segalanya”.

 

 

Ketika berada dalam situasi sulit dan pelik, seringnya bingung. Tak tahu apa yang mesti dilakukan. Tapi kalau saja ingat sejarah masa lalu. Berapa banyak keterhimpitan yang akhirnya menjadi keluasan? Berapa kali lolos dari lubang jarum kesulitan dan mengakhirinya dengan kemudahan?

Jawabannya pasti banyak, berkali-kali dan sering.

***

“Aku kepikiran kamu terus. Aku ga dapetin yang kayak kamu di Jakarta.”

“Ya iyalah, yang kayak aku kan cuma satu di dunia, lupa ya? Nyarinya kudu yang lebih dari aku, pasti banyak.”

“Aku serius, Noemi.”

“Aku juga serius Rudi, dua rius bahkan.”

***

Di liqo selanjutnya, ternyata Dikdik diminta untuk membuat Curiculum Vitae (CV) oleh murabbi.

Ia kaget,

“Kok seperti mau melamar pekerjaan ustadz?”

“Ini jauh lebih penting dari sekedar melamar pekerjaan, buatlah CV yang jauh lebih lengkap dari sekedar CV yang antum buat untuk ngelamar kerjaan.”

Jleb,

Murabbi-ku keren banget!” ujar Dikdik.

 

Maaf Noemi, kalau aku sempat rindu. Mungkin halalmu, memang bukan untukku.

Anak geng motor yang gagal mendekati akhwat LDK, sungguh cerita yang memalukan. Harga diri Dikdik sempat runtuh karenanya. Siapa pun ingin perjuangannya berbuah manis. Karena pada dasarnya, setiap insan merindukan kebenaran dan kebaikan. Rindu melihat yang baik, meski dirinya masih melakukan yang buruk. Rindu mendengar yang benar, walau dirinya masih melakukan yang salah. Diam-diam, Dikdik menaruh harapan pada insan yang menyeru kebenaran dan kebaikan.

Bersabarlah, wahai para agen penyeru kebenaran dan kebaikan!

 

Come to me, dong… my future husband….

Additional information

Weight 0.3 kg

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Noemi”

Your email address will not be published. Required fields are marked *